Post Title 2

Tampilkan postingan dengan label bhs.indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bhs.indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Teknik Dasar Membaca Cepat: Mengenali Kata dan Gerakan Mata

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.17


1. Menangkap dan mengenali kata

Dalam proses membaca, mata bertindak sebagai indra yang menangkap kata-kata dalam bahan bacaan. Kata-kata tersebut kemudian dikirim ke otak untuk dikenali sebagai sebuah kosa kata, kelompok kata, maupun pemahaman sebuah kalimat.
Ternyata otak manusia mampu memproses kata-kata dengan baik bahkan ketika urutannya dibolak-balik. Coba Anda simak teks berikut:
Kmaemuapn mbecmaa cpeat trkeiat eart dngean kmaemuapn mngelnaei ktaa. Mnuasia mngenelai breabgai ktaa lweat bkuu dan tlisaun ynag dbiacaayn. Ktaa-ktaa tbuesret dsimiapn dlaam mmorei oatk dan aakn dinalkei lbeih cpeat ktikea dtemuikan kmblaei pdaa baahn baacan ynag brau.
Libeh habet lgai tnyatera uturan ktaa tdiak tlaleru ptineng aslaakn psoisi hruuf preatma dan trekahir tdiak bruebah. Adna hnaya ckuup mngelnaei hruuf preatma dan trekahir tdai kmeduian dnegan kmemapaun laur baisa aakn mngeanilnya sbegaai sbeauh ktaa spereti ynag Adna bcaa skeranag. Ini mneuurt rsiet ynag prenah dlikaukan Uinvertisas Cmabrigde, Ingrigs.
Sekarang bandingkan dengan teks aslinya
Kemampuan membaca cepat terkait erat dengan kemampuan mengenali kata. Manusia mengenali berbagai kata lewat buku dan tulisan yang dibacanya. Kata-kata tersebut disimpan dalam memori otak dan akan dikenali lebih cepat ketika ditemukan kembali pada bahan bacaan yang baru.
Lebih hebat lagi ternyata urutan kata tidak terlalu penting asalkan posisi huruf pertama dan terakhir tidak berubah. Anda hanya cukup mengenali huruf pertama dan terakhir tadi kemudian dengan kemampuan luar biasa akan mengenalinya sebagai sebuah kata seperti yang Anda baca sekarang. Ini menurut riset yang pernah dilakukan Universitas Cambridge, Inggris.
Apa yang Anda rasakan ketika membaca kedua teks tadi? Kebanyakan orang tidak akan mengalami kesulitan berarti untuk membaca teks pertama. Mungkin kecepatannya akan lebih lambat karena teks tersebut dibolak-balik. Walaupun demikian teks tersebut masih cukup mudah dibaca dan dikenali sebagai kosa kata yang telah kita kenali sebelumnya.
Tulisan yang dibolak-balik tadi sekaligus menjadi bukti bahwa Anda mampu membacanya. Inilah prinsip yang akan kita gunakan dalam membaca cepat yakni mengenali kata demi kata dengan kecepatan tinggi sehingga Anda bisa terus berpindah ke kata berikutnya sambil membangun pemahaman dan konteks bahan bacaan.
Dalam membaca cepat kemampuan mengenali kata adalah dasar. Ketika Anda melihat sekumpulan huruf lewat mata dan mengirimkan ke otak, maka akan ada proses pengenalan terhadap kata-kata tersebut terlebih jika Anda pernah mengenal kosa kata tersebut sebelumnya. Itu mengapa orang yang rajin membaca memiliki kecepatan yang relatif lebih cepat dibandingkan orang yang jarang baca karena kekayaan kosa kata yang telah dimiliki sebelumnya. Dalam teknik membaca cepat, kita akan melatih kecepatan mengenali berbagai kosa kata tersebut.
Berikut latihan yang dapat Anda lakukan. Coba lihat tulisan pada kolom pertama (paling kiri) kemudian temukan kata yang sama pada 4 kolom berikutnya. Lakukan proses ini dengan cepat dan sekali lirik. Semakin cepat dan akurat Anda mengenalinya berarti semakin cepat pula kemampuan asosiasi Anda terhadap kata-kata tersebut.

1. Latihan mengenali kata

latihan_kata
Lakukan latihan tersebut dengan cepat. Rasakan mata Anda berpindah cepat dari kolom acuan ke kolom yang harus ditemukan.

2. Latihan mengenali kelompok kata

Latihan kedua adalah mengenali kelompok kata (frasa). Anda telah mengenal kata-kata ini sebelumnya. Sama seperti latihan sebelumnya lakukan dengan cepat untuk menemukan frasa yang sama pada kolom pertama di ketiga kolom lainnya.
latihan_frasa
Latihlah kedua hal di atas sampai Anda dapat mengenali dengan cepat sebuah kata dan kelompok kata (frasa). Dengan demikian, ketika proses membaca cepat dilakukan, pengenalan kata tidak tertinggal. Ibarat seorang pembalap, meskipun berkendara dengan kecepatan tinggi, Anda tetap awas atas apa-apa yang ada di depan, kiri dan kanan.
Kedua latihan di atas dapat Anda download dalam versi PDF di latihan-mengenali-kata-dan-frasa

2. Latihan Mempercepat Gerakan Mata

Setelah Anda melatih kecepatan mengenali kata dengan akurat, sekarang kita akan mulai berlatih mempercepat gerakan mata. Dalam proses membaca seseorang melakukannya dengan menangkap kata per kata atau bahkan suku kata per suku kata.
Perhatikan contoh berikut. Inilah yang biasanya dilakukan banyak orang ketika membaca.
fiksasi-1b
Tidak hanya itu kadangkala proses membaca bisa menjadi jauh lebih lambat jika ada proses mengeja per suku kata. Ini yang biasanya dilakukan ketika seorang anak mulai belajar membaca.
fiksasi-3
Dalam membaca cepat kita akan melatih menangkap dua, tiga, empat atau bahkan lima kata sekaligus sehingga mempercepat proses pembacaan.
fiksasi-2b
Ini adalah yang saya lakukan ketika berlatih membaca cepat sekitar tahun 1997 dulu. Caranya adalah dengan membuat garis lurus vertikal di buku atau bahan bacaan. Dengan demikian, keseluruhan teks akan terbagi menjadi beberapa bagian. Cara ini baik dipakai untuk melatih membiasakan mata melihat sekelompok kata sekaligus.
Perhatikan contoh tulisan berikut yang diberi garis putus-putus sehingga membaginya menjadi empat kelompok. Untuk tulisan lengkap dapat Anda download di sini dalam format PDF.
tulisan_4_fiksasi
Sumber: Republika, Rabu, 28 April 2004
Penulis: Yuswohady, Chief of Corporate & Strategy Practice MarkPlus&Co
Cara membacanya adalah paksakan mata Anda mengikuti kelompok yang dibuat oleh garis tadi. Dengan demikian, ketika pada baris pertama, Anda akan membaca kata “fenomena pria” sekaligus pada kolom pertama, kata “metroseksual yang kini” pada kolom kedua, kata “melanda seluruh dunia” pada kolom ketiga, dan kata “termasuk di kota-kota” pada kolom keempat. Lakukan hal yang sama pada baris-baris berikutnya.
Dengan cara ini, Anda akan memaksa mata melihat kelompok kata sesuai lebar garis yang Anda tentukan. Lakukan pergerakan tersebut dengan berirama sampai Anda terbiasa dengan pola 4 kali melihat dalam satu baris. Selanjutnya jika Anda sudah merasa mantap, jangkauan bisa diperlebar dengan melihat 3 kali dalam satu baris. Lakukan terus menerus sampai Anda dapat membaca dengan pola seperti itu tanpa perlu dibantu garis.
Sampai nantinya Anda bisa melakukannya dalam 2 kali lihat per baris atau bahkan beberapa orang bisa membacanya cukup 1 kali lihat perbaris. Cukup menantang bukan?
Contoh berikut ini mirip seperti tadi, bedanya tulisan dibagi dalam tiga kelompok saja. Artinya Anda harus mampu menangkap lebih banyak kata sekaligus dalam setiap kali pergerakan mata. Untuk tulisan lengkap dapat Anda download di sini dalam format PDF.
tulisan_3_fiksasi
Sumber: Republika, Rabu, 23 April 2003
Penulis: Mamang Pratidina
Semakin Anda konsisten melakukan latihan tersebut, maka secara bertahap Anda juga telah melatih otot-otot mata untuk bergerak dengan cepat dan teratur. Hal ini secara perlahan akan meningkatkan kecepatan baca sampai Anda menemukan kecepatan yang dirasakan pas.
Dalam kesempatan berikutnya, saya akan menjelaskan cara-cara melatih pergerakan mata ini agar bergerak lebih cepat, teratur dan berima. Dengan demikian proses pembacaan cepat akan menjadi lebih alami dengan tingkat pemahaman yang tinggi.
Selamat berlatih menjadi pembaca cepat. Anda punya pengalaman atau pendapat tentang hal ini? Silakan berbagi pengalaman.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

MEMBUAT MAKALAH

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.16


1. Kata Pengantar : berisi kata2 harapan penulis, ucapan trimakasih, dll dari penulis

2. Daftar isi (jelas)

3. Pendahuluan : latar belakang pembuatan tugas, tujuan dan manfaat yg diinginkan

4. Landasan teori : kutipan teori2 yg mendasari makalah, biasa lgs dikutip dari buku diktat

5. Pembahasan : inti makalah yg ingin lo bahas masukan di bab ini

6. Kesimpulan : pendek kata dari pembahasan masukin sini

7. Daftar Pustaka : sumber2 yg anda pakai

Dan untuk tahap awal yaitu :
Memilih Topik

Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih. Namun demikian, bukan berarti anda siap untuk menuju langkah berikutnya.

Pikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan anda tulis. Apakah berupa tinjauan umum, atau analisis topik secara khusus? Jika hanya merupakan tinjauan umum, anda dapat langsung menuju ke langkah berikutnya. Tapi bila anda ingin melakukan analisis khusus, topik anda harus benar-benar spesifik. Jika topik masih terlalu umum, anda dapat mempersempit topik anda. Sebagai contoh, bila topik tentang “Indonesia” adalah satu topik yang masih sangat umum. Jika tujuan anda menulis sebuah gambaran umum (overview), maka topik ini sudah tepat. Namun bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik ini menjadi “Kekayaan Budaya Indonesia” atau “Situasi Politik di Indonesia. Setelah anda yakin akan apa yang anda tulis, anda bisa melanjutkan ke langkah berikutnya.

Bila topik belum ditentukan, maka tugas anda jauh lebih berat. Di sisi lain, sebenarnya anda memiliki kebebasan memilih topik yang anda sukai, sehingga biasanya membuat esai anda jauh lebih kuat dan berkarakter.

Tentukan Tujuan

Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu? Apapun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.

Tuliskan Minat Anda

Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.

Evaluasi Potensial Topik

Jika telah ada bebearpa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan. Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.

Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.

Membuat Outline

Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.

Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas

Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar diantaranya

Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud:

Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik

Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca

Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut

Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C menurun di sis kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide utama
Menuliskan Tesis

Suatu pernyataan tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat. Pernyataan tesis anda terdiri dari dua bagian:

Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia

Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.

Menuliskan Tubuh Esai

Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh tesis anda.

Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:

Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda adalah: “Pemberantasan korupsi di Indonesia”, anda dapat menuliskan: “Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama”

Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat sampai lima baris.

Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi

Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan pada masing-masing paragraf.

Semoga bermanfaat..:D



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

DAFTAR PUSTAKA

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.15



Daftar pustaka memuat semua sumber tertulis (buku, artikrl jurnal, dokumen
resmi, atau sumber-sumber lain dari internet) atau tercetak (misalnya Compact disk,
video, film, atau kaset) yang pernah dikutip dan digunakan dalam penulisan karya
tulis ilmiah. Semua sumber tertulis atau tercetak yang tercantum dalam uraian harus
dicantumkan dalam daftar pustaka. Sumber-sumber yang tidak pernah digunakan
dalam penulisan karya tulis ilmiah, tidak perlu dicantumkan, meskipun pernah dibaca
oleh peneliti.
Cara menulis daftar pustaka, berurutan secara alfabetis tanpa nomor urut.
Sumber tertulis/tercetak yang memakan tempat lebih dari satu baris, ditulis dengan
jarak antar baris satu spasi, sedangkan jarak antar sumber-sumber tertulis yang saling
berurutan adalah dua spasi. Cara menulis daftar pustaka dapat dilihat pada contoh di
bawah ini :
1. Kalau sumbernya buku
Arikunto, S. (2006). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research-CAR)
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Suhardjono. (2006). Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Kegiatan Pengembangan
Profesi Guru. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Wardani, I.G.A.K, Wihardit, dan Nasoetion. (2004). Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : Universitas Terbuka.
Jika buku ditulis lebih dari tiga orang, digunakan et al.
Ghiseli, E. et al. (1981). Measurement Theory for The Behavioral Sciences. San
Francisco : W.H. Freeman and. Co.
2. Kalau sumber jurnal
Namdeo, A. G. (2007). Plant Cell Elicitation for Production of Secondary
Metabolites.. Journal of Phyto-Biotechnology. (1), .71-79
3. Kalau sumbernya di luar jurnal atau buku
3
Cendrawati, C.S (2000). Kemampuan Kreatif Dalam Melakukan Elaborasi
Terhadap Konsep-Konsep Sistem Reproduksi Anthophyta. Tesis. UPI
Bandung : Tidak diterbitkan.
Dinata, A (2005). “Akibat Pengelolaan Sampah Setengah Hati”. Pikiran Rakyat
(28 Februari 2005). .
4. Kalau sumbernya dari internet
Duch, B.J (1995a). What is Problem-Based Learning ? [online]. Tersedia :
http://www.udel,edu/pbl/ete/jan95-what.html[8 April 2005].
Duch, B.J (1995b). The Power Of Problem-Based Learning. [online]. Tersedia :
http://www.udel,edu/pbl/ete/jan95-edit.html. [8 April 2005]
Duch, B.J (1995c). Problem-based Learning In Physics : The Power Of Students
Teaching Students.[online]. Tersedia : htp://www.udel,edu/pbl/ete/jan95-
Phys.html. [8 April 2005]


Daftar pustaka memuat semua sumber tertulis (buku, artikrl jurnal, dokumen
resmi, atau sumber-sumber lain dari internet) atau tercetak (misalnya Compact disk,
video, film, atau kaset) yang pernah dikutip dan digunakan dalam penulisan karya
tulis ilmiah. Semua sumber tertulis atau tercetak yang tercantum dalam uraian harus
dicantumkan dalam daftar pustaka. Sumber-sumber yang tidak pernah digunakan
dalam penulisan karya tulis ilmiah, tidak perlu dicantumkan, meskipun pernah dibaca
oleh peneliti.
Cara menulis daftar pustaka, berurutan secara alfabetis tanpa nomor urut.
Sumber tertulis/tercetak yang memakan tempat lebih dari satu baris, ditulis dengan
jarak antar baris satu spasi, sedangkan jarak antar sumber-sumber tertulis yang saling
berurutan adalah dua spasi. Cara menulis daftar pustaka dapat dilihat pada contoh di
bawah ini :
1. Kalau sumbernya buku
Arikunto, S. (2006). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research-CAR)
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Suhardjono. (2006). Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Kegiatan Pengembangan
Profesi Guru. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Wardani, I.G.A.K, Wihardit, dan Nasoetion. (2004). Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : Universitas Terbuka.
Jika buku ditulis lebih dari tiga orang, digunakan et al.
Ghiseli, E. et al. (1981). Measurement Theory for The Behavioral Sciences. San
Francisco : W.H. Freeman and. Co.
2. Kalau sumber jurnal
Namdeo, A. G. (2007). Plant Cell Elicitation for Production of Secondary
Metabolites.. Journal of Phyto-Biotechnology. (1), .71-79
3. Kalau sumbernya di luar jurnal atau buku
3
Cendrawati, C.S (2000). Kemampuan Kreatif Dalam Melakukan Elaborasi
Terhadap Konsep-Konsep Sistem Reproduksi Anthophyta. Tesis. UPI
Bandung : Tidak diterbitkan.
Dinata, A (2005). “Akibat Pengelolaan Sampah Setengah Hati”. Pikiran Rakyat
(28 Februari 2005). .
4. Kalau sumbernya dari internet
Duch, B.J (1995a). What is Problem-Based Learning ? [online]. Tersedia :
http://www.udel,edu/pbl/ete/jan95-what.html[8 April 2005].
Duch, B.J (1995b). The Power Of Problem-Based Learning. [online]. Tersedia :
http://www.udel,edu/pbl/ete/jan95-edit.html. [8 April 2005]
Duch, B.J (1995c). Problem-based Learning In Physics : The Power Of Students
Teaching Students.[online]. Tersedia : htp://www.udel,edu/pbl/ete/jan95-
Phys.html. [8 April 2005]



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Gagasan Utama dalam Paragraf

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.14


Salah satu pokok bahasan dalam pelajaran bahasa Indonesia baik di SD, SMP, maupun SMA adalah mengenai Gagasan Utama dalam Paragraf. Nama lain dari gagasan utama adalah ide pokok, gagasan pokok, atau ide sentral. Jadi, kalian jangan bingung ketika membaca soal ataupun tulisan dengan menggunakan nama yang berbeda-beda ini. Pada dasarnya, mereka adalah satu, alias saudara kembar.

Apa yang dimaksud dengan gagasan utama itu?
Kita harus tahu bahwa setiap paragraf yang baik haruslah mempunyai gagasan utama. Gagasan utama adalah ide atau tema yang menjiwai paragraf tersebut. Artinya, paragraf yang bersangkutan hanya membahas tentang itu, bisa memperdalam, atau memberi contoh-contohnya.

Sifat gagasan utama adalah umum. Ketika membaca paragraf, temukan kalimat yang bermakna umum, jangan mencari yang maknanya khusus atau spesifik. Jika kamu sudah menemukannya, berarti kamu sudah mendapatkan gagasan utamanya. Tidak sulit bukan?

Selalu dan selalu dalam ulangan ataupun ujian nasional, ada pertanyaan mengenai gagasan utama ini. Berarti, ini adalah pokok bahasan yang penting. Pertanyaannya bisa berupa menanyakan letak gagasan utamanya, ataupun menanyakan apa gagasan utamanya.

Mari kita bahas satu per satu. Di manakah letak gagasan utama dalam sebuah paragraf? Kalian harus membayangkan sebuah paragraf yang terdiri dari beberapa kalimat. Karena sebenarnya syarat paragraf yang baik memang harus terdiri dari beberapa kalimat, di mana ada gagasan utama yang tertuang dalam kalimat utama atau kalimat pokok, dan ada beberapa kalimat penjelas, yang memperjelas gagasan utama tersebut.

Jadi, di manakah letak gagasan utamanya?
1. Di awal paragraf. Ini adalah tempat favorit gagasan utama. Bisa dikatakan, 75%-80% gagasan utama terletak di sini. Mengapa? Karena rupanya para penulis hampir selalu memulai paragrafnya dengan menuliskan gagasan utamanya, yaitu kalimat yang bersifat umum itu dan kalimat-kalimat berikutnya merupakan penjelas dari gagasan utama itu.
Contoh:
Ada banyak cara yang orang lakukan untuk mengisi hari pertamanya di tahun baru. Ada yang menyambut fajar pertama di puncak gunung, bersenang-senang dengan konvoi kendaraan bermotor, atau merayakannya dengan pesta kembang api, atau mungkin merayakannya dengan pasangan masing-masing.
Gagasan utamanya: Cara orang mengisi hari pertama di tahun baru.

2. Di akhir paragraf. Banyak juga paragraf yang seperti ini. Artinya, paragraf itu dimulai dengan rincian, baru ditutup dengan pernyataan umum.
Contoh:
Ada orang yang menyambut fajar pertama di puncak gunung, ada yang memilih bersenang-senang dengan konvoi kendaraan bermotor. Akan tetapi, ada juga yang memilih menyambut tahun baru dengan pesta kembang api, atau mungkin merayakannya dengan pasangan masing-masing. Ya, itulah berbagai cara yang dilakukan orang untuk mengisi hari pertamanya di tahun baru.
Gagasan utamanya: Berbagai cara orang mengisi hari pertama di tahun baru.

3. Di awal paragraf dan diulang lagi di akhir paragraf. Paragraf yang seperti ini, berarti dimulai dengan pernyataan umum dan diakhiri dengan pernyataan umum lagi. Pengulangan ini tidak sama 100%, tapi kata-kata yang dipergunakan kurang lebih sama.
Contoh:
Ada banyak cara yang orang lakukan untuk mengisi hari pertamanya di tahun baru. Ada yang menyambut fajar pertama di puncak gunung, bersenang-senang dengan konvoi kendaraan bermotor, atau merayakannya dengan pesta kembang api, atau mungkin merayakannya dengan pasangan masing-masing. Ya, itulah berbagai cara yang dilakukan orang untuk menyambut tahun baru.
Gagasan utamanya: Cara orang mengisi hari pertama di tahun baru.

4. Di seluruh isi paragraf. Letak gagasan utama terakhir ini hanya didapati di dalam prosa/cerita-cerita. Itulah sebabnya paragraf yang seperti ini disebut 'paragraf deskriptif atau paragraf naratif'. Ingat kan arti narasi? Ya betul, narasi artinya cerita. Mengapa ada di seluruh isi paragraf? Itu pertanyaan yang bagus karena tahu sendiri, namanya juga cerita, jadi semua kalimatnya saling bertautan alias berhubungan. Jadi, tidak ada yang khusus berisi gagasan utama.
Contoh:
Salah satu kerinduan ibu saya adalah melihat kami, anak-anaknya, dapat menyelesaikan pendidikan dan mendapat pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikan kami masing-masing. Di atas semua kerinduan itu, ia menanamkan kepada kami sikap yang takut akan Tuhan dan hati yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Ibu selalu mengajarkan. "Kalau bukan Tuhan yang menyertai dan memberkati usaha yang kita lakukan, maka semua usaha dan kekuatan yang kita kerahkan akan sia-sia. Karena itu, berdoalah untuk setiap hal yang sudah kita rencanakan dan mintalah tuntunan serta campur tangan-Nya.
Gagasan utamanya: Kerinduan dan ajaran ibu.

Semoga kalian dapat memahaminya, ya. Good luck!

Peningkatan Kemampuan Bermain Drama

Pembelajaran bermain drama bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memerankan tokoh drama dengan
memperhatikan penggunaan lafal, intonasi, nada/ tekanan, dan ekspresi yang sesuai dengan karakter tokoh. Berdasarkan pengamatan
awal, telah diperoleh data bahwa pembelajaran bermain drama adalah materi yang sulit diajarkan karena keterbatasan waktu jika
harus diajarkan di kelas, guru yang kurang berkompeten dalam pembelajaran drama, kurang adanya kerjasamanya antara guru dan
siswa, atau siswa dengan siswa, dan guru hanya menggunakan metode ceramah dalam memberikan materi drama dan tidak
memberikan praktik secara langsung kepada siswa, sehingga siswa kesulitan dalam memerankan tokoh drama, kesulitan dalam
mengucapkan dialog yang benar, dan kesulitan dalam menghayati karakter atau berekspresi.
Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana teknik pemodelan dapat meningkatkan kemampuan bermain drama siswa
kelas V SD Negeri Karangsono 02 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar khususnya pada tahap latihan dasar, tahap latihan
pemeranan dengan membaca naskah, tahap latihan pemeranan dengan berdialog lepas naskah, dan tahap pementasan. Adapun tujuan
penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa kelas V SD Negeri Karangsono 02 Kecamatan Kanigoro
Kabupaten Blitar.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan
penelitian disusun dalam satuan siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi. Penetapan subjek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan dan prates yang dilakukan
oleh peneliti.
Pembelajaran dilakukan sebanyak dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan selama empat kali pertemuan yang terdiri dari
empat tahap, yaitu (1) Latihan dasar, berupa kegiatan yang berorientasi pada latihan pernafasan, latihan vokal, latihan gerak/
kelenturan tubuh, dan latihan konsentrasi, (2) Latihan pemeranan tahap membaca naskah, berupa kegiatan yang berorientasi pada
berlatih membaca naskah drama dengan memperhatikan kelancaran membaca, intonasi, vokal, nada/ tekanan, dan ekspresi/
penghayatan, (3) Latihan pemeranan tahap berdialog lepas naskah, berupa kegiatan yang berorientasi pada latihan mengucapkan
dialog dan memerankan tokoh drama tanpa membawa naskah dengan memperhatikan intonasi, vokal, nada/ tekanan, lafal, dan
ekspresi/ penghayatan, (4) Pementasan, berupa kegiatan mementaskan naskah drama yang telah dipelajari dengan memperhatikan
intonasi, vokal, nada/ tekanan, lafal, dan ekspresi/ penghayatan yang sesuai dengan karakter tokoh dalam naskah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan teknik pemodelan, kemampuan siswa dalam bermain drama dapat
ditingkatkan. Efektivitas penggunaan teknik pemodelan ini dapat diketahui dari peningkatan nilai yang dicapai siswa dalam
melakukan latihan dasar, membaca naskah drama, berdialog dengan lepas naskah, dan memerankan tokoh dalam pementasan.
Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan pada guru untuk menggunakan teknik pemodelan dengan lebih kreatif dan
inovatif sebagai upaya meningkatkan kemampuan siswanya dalam bermain drama. Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di
lingkungan sekolah juga disarankan memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai kepada guru untuk melakukan kerja sama
1dengan para peneliti dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Sedangkan bagi calon peneliti yang ingin
menggunakan dan mengembangkan teknik pemodelan, diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran pada kompetensi
dasar pembelajaran sastra yang lain.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Jumat, 25 Maret 2011

BHS. INDONESIA (kelas XI)

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.07

MATERI DRAMA

DRAMA

Drama adalah karya seni berupa dialog yang dipentaskan. Drama kerap dimasukkan dalam ranah kesusasteraan karena menggunakan bahasa sebagai media penyampai pesan.
Menurut jenisnya, pementasan drama dapat digolongkan menjadi empat macam yaitu drama tragedi, drama komedi, melodrama, dan dagelan.
1.Drama tragedi adalah drama yang melukiskan kisah sedih. Tokoh-tokohnya menggambarkan kesedihan. Tokoh dalam drama tragedi ini disebut tragic hero artinya pahlawa yang mengalami nasib tragis.
2.Drama komedi adalah drama yang bersifat menghibur, di dalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir , dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Tokoh-tokoh dalam drama jenis ini biasanya tolol, konyol, atau bijaksana tetapi lucu.
3.Melodrama adalah cerita yang sentimental. Artinya tokoh dan cerita yang disuguhkan mendebarkan dan mengharukan. Tokoh dalam jenis drama ini biasanya digambarkan hitam-putih. Tokoh jahat digambarkan serba jahat, sebaliknya tokoh baik digambarkan sangat sempurna baiknya hingga tidak memiliki kesalahan dan kekurangan sedikit pun.
4.Dagelan (farce) adalah drama kocak dan ringan. Alurnya disusun berdasarkan perkembangan situasi tokoh. Isi cerita biasanya kasar dan fulgar. Drama jenis ini juga disebut komedi murahan atau komedi picisan.
Berdasarkan teknik pementasannya, drama dibedakan atas drama bentuk drama tradisional dan drama modern. Drama tradisional adalah seni drama yang berakar dan bersumber dari tradisi masyarakat, bersifat spontan dan improvisatoris.
Sedangkan drama modern adalah drama yang bertolak dari hasil sastra yang disusun untuk suatu pementasan. Jadi, perbedaan utama antara drama tradisional dengan drama modern terletak pada tidak ada atau adanya naskah.
Drama tradisional dapat dikelompokkan menjadi:
1.drama tutur (lisan dan belum diperankan): kentrung, dalang jemblung,
2.drama rakyat (lisan, spontan, dan cerita daerah): randai, kethoprak,
3.drama wayang/klasik (segala macam wayang): wayang kulit, wayang beber, wayang golek, wayang orang, langendriyan,
4.drama bangsawan (dipengaruhi konsep teater Barat dan ditunjang pengaruh kebudayaan melayu dan Timur Tengah): komedi bangsawan, komedi stambul.
Drama modern dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.drama konvensional (sandiwara) adalah drama yang bertolak dari lakon drama yang disajikan secara konvensional.
drama kontemporer (teater mutakhir) adalah drama yang mendobrak konvensi lama dan penuh dengan pembaharuan, ide-ide baru, gagasan baru, penyajian baru, penggabungan konsep Barat-Timur.
Adapun unsur-unsur drama adalah:
1.Tema
2.Setting atau Latar
3.Alur atau Plot
4.Penokohan atau Perwatakan
5.Amanat
6.Bloking dan Akting
7.Tata Pentas.
Dalam Kurikulum 2006, analisis drama banyak diarahkan pada analisis tentang penokohan.
Tokoh dalam drama dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan peran terhadap jalan cerita, ada tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis.
a. Tokoh protagonis adalah tokoh utama cerita yang pertama-tama menghadapi masalah. Tokoh ini biasanya didudukkan penulis sebagai tokoh yang memperoleh simpati pembaca/penonton karena memiliki sifat yang baik.
b. Tokoh antagonis adalah tokoh penentang tokoh protagonis.
c. Tokoh tritagonis disebut juga tokoh pembantu, baik membantu tokoh protagonis maupun antagonis.
2. Berdasarkan peran dalam lakon serta fungsinya, ada tokoh sentral, tokoh utama, dan tokoh pembantu.
a. Tokoh sentral adalah tokoh-tokoh yang paling menentukan gerak lakon. Tokoh sentral merupakan biang keladi pertikaian. Dalam hal ini tokoh sentral adalah tokoh protagonis dan tokoh antagonis.
b. Tokoh utama adalah pendukung atau penentang tokoh sentral. Mereka dapat berperan sebagai perantara tokoh sentral. Dalam hal ini, yang berperan sebagai tokoh utama ialah tokoh tritagonis.
c. Tokoh pembantu yaitu tokoh-tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan dalam mata rantai cerita. Kehadiran tokoh pembantu ini hanya menurut kebutuhan cerita. Tidak semua lakon drama menghadirkan tokoh pembantu.
Mengenal dan memahami tokoh mutlak dilakukan oleh calon pemeran, sebab akan memungkinkannya mengenal benar hubungan tokoh yang akan diperankannya dengan tokoh-tokoh lainnya. Dengan demikian, akan memperjelas sifat dan perilaku tokoh yang harus diperankannya.
Membaca naskah dan memahami tokoh harus diikuti dengan latihan pementasan. Latihan-latihan ini meliputi:
1.latihan sikap, gerak atau perbuatan agar tidak canggung, tidak kaku , dan tidak overacting,
2.latihan blocking (perpindahan dari satu tempat ke tempat lain),
3.latihan dialog (pembicaraan dengan tokoh lain) secara tepat,
4.latihan gesture (gerakan tangan dan kaki) secara wajar,
5.latihan vokal dengan artikulasi yang tepat,
6.latihan menggambarkan watak secara wajar,
7.latihan mimik (ekspresi wajah) sehingga agar meyakinkan penonton,
8.latihan pantomimik (gerakan-gerakan tubuh), dan
latihan memanfaatkan segala properti dan situasi pentas dengan baik.
Yang perlu dipahami, dialog pemain tidak harus sama persis dengan yang tertulis dalam teks. Pemain boleh saja menambahi atau mengurangi agar tercapai tingkat penjiwaan yang lebih tinggi.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer