Post Title 2

Tampilkan postingan dengan label seni budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

MEMBUAT MAKET

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.21


Salah satu tuntutan kuliah di jurusan Arsitektur adalah membuat maket miniatur tugas-tugas perancangan miniatur rumah. Maket atau model miniatur adalah desain miniatur rancangan yang kita buat dengan skala tertentu, agar rancangan miniatur hotel lebih mudah dibayangkan secara 3 dimensi.
Ada
dua macam maket hotel : maket studi desain rumah dan maket presentasi model rumah. Maket studi miniatur rumah digunakan oleh mahasiswa bersangkutan untuk mempelajari hal-hal yang lebih jelas ditampilkan dengan miniatur secara 3 dimensi, misalnya kontur lahan, proporsi bangunan terhadap lingkungan sekitarnya, dan lain-lain. Maket miniatur studi biasanya dibuat dengan bahan-bahan sederhana karena hanya ditujukan untuk diri sendiri (dan mungkin dosen pembimbing), dan rancangan miniatur rumah dan maket hotel pun masih mungkin berubah dan berkembang.
Maket presentasi untuk desain merchandise dan miniatur hotel seperti namanya digunakan untuk mempresentasikan rancangan final, ditujukan bagi 'klien' model merchandise (semasa kuliah kliennya tentu saja dosen penguji). Maket desain miniatur ini dibuat sebagus mungkin karena tujuannya untuk menarik hati klien desain rumah.
Membuat maket presentasi model miniatur yang bagus sebetulnya tidak perlu mahal. Dengan bahan-bahan sederhana seperti karton, kertas warna, busa, plastik mika, pasir, serbuk gergaji, dapat menghasilkan maket yang menarik. Bahan-bahan yang sering digunakan untuk maket misalnya :* Alas maket model rumah atau miniatur rumah : karton, styrofoam, chip board, matras, tripleks.Permukaan desain merchandise bisa cukup dilapisi kertas, atau jika ingin efek khusus bisa dibuat dengan teknik-teknik model merchandise tertentu. Lahan berumput dibuat dengan melapisi permukaannya dengan serbuk gergaji halus kemudian disemprot dengan cat hijau. Perairan seperti danau atau kolam dapat dibuat dengan kertas biru yang dilapisi plastik, di antara keduanya bisa ditaburi gula untuk efek kilauan air.* Bangunan miniatur (berbagai bagiannya) : karton, mounting board, kayu balsa, corrugated paper, plastik, dan lain-lain.* Lansekap (pohon, rumput dll) : busa, tusuk gigi, korek api, jarum pentul, serbuk gergaji, dll.
Dan masih banyak lagi jika harus disebutkan satu persatu. Apalagi bagi mahasiswa yang kondisi keuangannya masih terbatas , dituntut untuk kreatif menggunakan bahan-bahan murah dan sederhana.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

seni budaya XI (seni kriya)

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.20


I Wayan Seriyoga Parta Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni” (Prof. Dr. Timbul Haryono: 2002).
Dalam pergulatan mengenai asal muasal kriya Prof. Dr. Seodarso Sp dengan mengutif dari kamus, mengungkapkan “perkataan kriya memang belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia; perkataan kriya itu berasal dari bahasa Sansekerta yang dalam kamus Wojowasito diberi arti; pekerjaan; perbuatan, dan dari kamus Winter
diartikan sebagai ‘demel’ atau membuat”. (Prof. Dr. Soedarso Sp, dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)
Sementara menurut Prof. Dr. I Made Bandem kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)
Dari tiga uraian ini dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya adalah; kerja, pekerjaan, perbuatan, yang dalam hal ini bisa diartikan sebagai penciptaan karya seni yang didukung oleh ketrampilan (skill) yang tinggi.
Seperti telah disinggung diawal bahwa istilah kriya digali khasanah budaya Indonesia tepatnya dari budaya Jawa tinggi (budaya yang berkembang di dalam lingkup istana pada sistem kerajaan). Denis Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang budaya, menyatakan ‘istilah kriya yang diambil dari kryan menunjukkan pada hierarki strata pada masa kerajaan Majapahit, sebagai berikut; “Pertama-tama terdapat para mantri, atau pejabat tinggi serta para arya atau kaum bangsawan, lalu para kryan yang berstatus kesatriya dan para wali atau perwira, yang tampaknya juga merupakan semacam golongan bangsawan rendah’. (Denis Lombard dalam Prof. SP. Gustami, 2002)
Menyimak pendapat Prof. SP. Gustami yang menguraikan bahwa; seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.
Lebih lanjut Prof. SP. Gustami menjelaskan perbedaan antara kriya dan kerajinan dapat disimak pada keprofesiannya, kriya dimasa lalu yang berada dalam lingkungan istana untuk pembuatnya diberikan gelar Empu. Dalam perwujudannya sangat mementingkan nilai estetika dan kualitas skill. Sementara kerajinan yang tumbuh di luar lingkungan istana, si-pembuatnya disebut dengan Pandhe. Perwujudan benda-benda kerajinan hanya mengutamakan fungsi dan kegunaan yang diperuntukkan untuk mendukung kebutuhan praktis bagi masyarakat (rakyat). (Prof. SP. Gustami, 2002) Pengulangan dan minimnya pemikiran seni ataupun estetika adalah satu ciri penanda benda kerajinan.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

seni kriya nusantara

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.20


Seni Kriya indonesia
Keragaman Nilai Seni Kriya Indonesia
Keragaman seni budaya bangsa Indonesia, di antaranya terlihat melalui produk kriya tradisional tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan karakter dan gaya seni masing-masing. Eksistensinya menambah maraknya keindahan bumi pertiwi, bak mozaik seni budaya di persada nusantara. Kehadiran aneka produk kriya tradisional itu merupakan potensi yang membanggakan karena didalamnya mengandung kompleksitas nilai dan kompetensi, sesuai tingkat peradaban dan kehidupan insan pendukungnya sejak jaman prasejarah sampai jaman modern. Sesuai jiwa jamannya, produk kriya tradisional Indonesia mengandung muatan nilai-nilai sosial, politik, ekonomi, budaya, spiritual, dan material yang dapat dipergunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui tingkat peradapan, kemajuan pola pikir, kesadaran, dan kepekaan rasa seseorang, berikut tingkat peradaban dan tataran hidup masyarakat pendukungnya.
Disadari, bahwa nilai-nilai yang di kandung produk seni kriya tradisional selalu mengalami perubahan dan perkembangan, mengalami kontinuitas dan dekontinuitas selaras dengan tuntutan perkembangan jaman, baik yang terjadi pada masa prasejarah, jaman purba, jaman madia, jaman modern, maupun pada era keterbukaan dan global. Ketika kehidupan manusia berada pada tataran hidup berpidah-pindah dengan kepercayaan animis dan dinamis, maka kehadiran seni kriya sangat bergayut dengan kondisi-kondisi kehidupan kala itu, demikian pula pada jaman purba, jaman madia, dan seterusnya.

Kehadiran seni kriya dapat dinyatakan sangat erat dengan peri kehidupan itu sendiri, seni kriya berasal dari masyarakat dan kembali untuk kepentingan mereka. Seni kriya berada di tengah masyarakat sebagai cabang seni yang membumi dan merakyat. Hal ini bukanlah sejenis slogan semata, tetapi hal itu adalah suatu kenyataan. Seperti diketahui,seni kriya hadir pada semua jenjang kehidupan masyarakat, baik di kalangan ekonomi lemah, ekonomi menengah, maupun ekonomi kuat. Umumnya masyarakat memerlukan kehadiran seni kriya di dalam kehidupan mereka, terutama sebagai sarana hidup untuk mengangkat harkat dan martabatnya. Seni kriya pernah menjadi perangkat simbol status seseorang, seni kriya bisa menjadi produk industri yang memiliki nilai ekonomi, dan seni kriya juga berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan material maupun spiritual. Meningkatnya sarana hidup, membuka peluang berkembangnya seni kriya guna menjawab berbagai kepentinygan hidup, hal itu mempunyai pengaruh kuat terhadap eksistensi danperkembangannya. Seni kriya yang sangat lekat dengan kebutuhan hidup itu memiliki peluang dan berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi unit usaha produksi yang bersifat industrial, sekaligus menjadi komuditas yang handal di bidang perdagangan. Hal ini terbukti banyak cabang seni kriya yang setelah melalui pembinaan serius berhasil memenuhi tuntutan pasar dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pendukungnya, bahkan mendatangkan devisa negara.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Jumat, 25 Maret 2011

SENI BUDAYA (kelas XI)

Posted by Meeyee DoDoL Cuek On 00.03

PROYEKSI
membuat gambar proyeksi denah tampak dan potongan sebuah bangunan lengkap dengan elemen notasi dan ukurannya.
Skala 1:20
UKURAN-UKURAN


Ada dua macam ukuran dalam gambar teknik. Pertama adalah ukuran horizontal, dan yang kedua adalah ukuran vertical. Ukuran horizontal adalah ukuran yang digunakan untuk mengukur dimensi panjang dan lebar, sedangkan ukuran vertical adalah ukuran yang digunakan untuk memberikan informasi ukuran vertical (dimensi ketinggian).


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggambar ukuran adalah:

- Garis ukuran harus ditarik tipis dan tidak boleh terputus-putus (tebal 0,1 mm).

- Garis-garis pertolongan ini (untuk ukuran-ukuran) harus di­gambar di luar bendanya. Ujung dari garis pertolongan diberi tanda garis miring, tanda panah atau bulatan.

- Angka-angka tidak boleh terlalu kecil.

- Untuk menyatakan ukuran-ukuran yang horizontal, angka/bilangan-bilangan dituliskan di atas garis dan arah angka sejajar garis ukuran.


Untuk ukuran vertikal yang bukan menyatakan ketinggian, angka ditulis di samping kiri garis ukur dan arah angka sejajar dengan garis ukur tersebut (dari bawah ke atas). Jadi, angka­angka harus dapat dibaca dari sebelah kanan gambar. Atau dapat dijelaskan sebagai berikut: gambar diputar 90° searah jarum jam sehingga posisi vertikal ini menjadi horizontal lalu diberi ukuran. Untuk menyatakan suatu ketinggian diperlukan garis per­tolongan tegak disertai tanda panah dan angka diletakkan di sebelah kanan garis ukuran ini dengan arch angka hori­zontal. Atau dengan membandingkan dengan lantai dasar bangunan (lantai 1) sebagai ketinggian ± 0,00 dan ke atas dinyatakan dengan angka positif (+), sedangkan ke bawah dinyatakan dengan angka negative (-).


image001

Contoh gambar pelulisan ukuran vertikal


Untuk ukuran-ukuran yang sempit dan rapat boleh diguna­kan pertolongan tanda panah, angka ditulis di tempat lain.


GAMBAR PROYEKSI


Di dalam teknik cara untuk menggambarkan suatu objek adalah dengan cara proyeksi. Jadi, di sini untuk menggambar suatu objek kita menempatkan bidang proyeksi atau bidang gambar di antara mata dan objek (cara Amerika). Ada pula yang membuat cara gambar dengan menempatkan bidang proyeksi di belakang objek (cara Eropa).

image002



Keterangan:







Titik A

Bidang a

Titik D

Titik E

:

:

:

:

titik mata/pandang

bidang proyeksi

proyeksi titik B pads bidang a dengan titik pandang di A

proyeksi titik C pads bidang a dengan titik pandang di A


Ada dua macam proyeksi sebagai berikut.


  1. Proyeksi miring

Garis-garis proyeksi membentuk sudut miring (# 90°) terhadap bidang proyeksi. Proyeksi miring disebut jugs sebagai gambar pandangan tunggal karena dalam proyeksi ini ketiga dimensi benda akan terlihat sehingga untuk menggambarkan bendanya secara utuh cukup dengan satu gambar proyeksi.


  1. Proyeksi tegak (ortogonal)

Garis-garis proyeksi selalu I bidang proyeksi dan salah satu bidang benda diletakkan sejajar dengan bidang proyeksi. Hanya terlihat satu muka (dua dimensi) untuk setiap gambar proyeksi.

Diperlukan minimal tiga gambar proyeksi untuk menggambar­kan suatu objek/benda. Proyeksi tegak disebut juga gambar pandangan majemuk. Dalam teknik sipil, proyeksi ortogonal selalu dipakai untuk menggambarkan suatu objek, sedangkan proyeksi miring hanya digunakan untuk memperjelas suatu gambar.


image003


Proyeksi Miring (Gambar Pandangan Tunggal)

Yang masuk proyeksi miring adalah: proyeksi aksonometri; proyeksi tidak langsung (oblique); dan proyeksi perspektif.


Proyeksi Aksonometri

Proyeksi aksonometri adalah proyeksi miring di mana tiga muka (dimensi) dari benda akan terlihat dengan bentuk dan ukuran yang sebanding benda ashnya. Proyeksi ini disebut jugs proyeksi sejajar karena garis-garis objek yang sejajar tetap sejajar. Proyeksi ini dapat juga disebut sebagai proyeksi dengan titik hilang tak terhingga.


Untuk menggambarkan proyeksi aksonometri dapat dilaku­kan dengan berbagai posisi. Untuk ini dikenal tiga bentuk gambar, yaitu isometri, dimetri, dan. trimetri. Lebih lanjut mengenai gambar proyeksi aksonometri akan dibahas pada modulminggu berikutnya.


Proyeksi Tidak Langsung (Gambar Oblique)

Proyeksi tidak langsung adalah cara penggambaran pandangan tunggal di mana salah satu bidangnya (bidang muka) diletakkan sejajar bidang proyeksi dan diproyeksikan secara ortogonal. Pada bidang ini ukuran dan bentuk sesuai dengan benda aslinya, sedangkan yang lainnya dengan cara proyeksi sejajar (secara miring).


Rusuk-rusuk a dan b digambar sesuai ukuran yang sebenamya (secara frontal). Sementara rusuk c digambar dengan skala perbandingan 1, atau 1/3 nya. Dengan sudut a diambil 30°, 45°, atau 60°.


Jadi, dapat dikatakan proyeksi tidak langsung adalah proyeksi sejajar di mana bidang depannya dibuat frontal. Bila c diambil dengan skala perbandingan 1, disebut gambar cavalier, sedangkan bila skala perbandingan 1/2, dan sudutnya adalah 45o, disebut gambar cabinet (sering dipakai untuk menggambarkan suatu benda pada Gambar Teknik Mesin).


Proyeksi/Gambar Perspektif

Proyeksi perspektif adalah cars penggambaran pandangan tunggal di mana dalam menggambarkan gambar proyeksinya, garis­garis sejajar dalam salah satu atau dua dimensinya, bertemu pads satu titik yang disebut titik hilang. Oleh karena itu, gambar ini disebut jugs sebagai gambar proyeksi titik hilang. Pada proyeksi ini tidak ada satu garis pun yang ukurannya tepat seperti bendanya. Pada Gambar Teknik Sipil gambar perspektif ini hanya dipakai untuk memperjelas gambar.


Ada tiga macam gambar perspektif, yaitu

- perspektif dengan satu titik hilang (perspektif sudut);

- perspektif dengan dua titik hilang (perspektif miring);

- perspektif dengan titik hilang tak terhingga (proyeksi sejajar).

Lebih jauh mengenai gambar perspektif ini akan dibahas lebih lanjut dalam modul minggu-minggu berikutnya.


Proyeksi Ortogonal (Gambar Pandangan Majemuk)

Gambar proyeksi ini memberikan informasi yang lengkap dan tepat dari suatu objek tiga dimensi karena bentuk dan ukurannya tepat seperti bendanya. Di sini objeknya diletakkan dengan bidang-bidang koordinatnya sejajar dengan bidang proyeksi (disebut bidang frontal).


Untuk mendapatkan gambar yang lengkap, bidang proyeksi dibuat tiga (sesuai tiga dimensi) atau lebih (bila diperlukan), bidang proyeksi ini membungkus benda tersebut.


Objeknya diproyeksikan secara ortogonal pads bidang-bidang proyeksi tersebut.

Masing-masing gambar proyeksi disebut sesuai dengan arah pandangnya, yaitu pandangan/tampak depan atau belakang, tampak kiri atau kanan, tampak atas atau bawah.


Cara gambar proyeksi seperti ini banyak dipakai di negara­negara. Eropa sehingga wring disebut cara Eropa. Lain halnya dengan cara Amerika, gambar-gambar ini diletakkan sesuai dengan arah pandangannya, yaitu gambar tampak kiri diletakkan di sebelah kiri, tampak atas diletakkan di atas, dan seterusnya (ingat bidang proyeksi terletak di antara titik mata dan benda).


Salah satu cara penggambaran proyeksi ortogonal adalah dengan cara gambar tiga kuadran. Di sini hanya digambar tiga tampak masing­-masing dalam kuadran suatu sumbu koordinat, sedangkan kuadran yang satunya untuk garis-garis proyeksi lengkung (kwena perubahan arah proyeksi). Tempatkan tampak atas pads kuadran III atau IV.


image004

Keterangan gambar:

A = Tampak depan D = Tampak kanan

B = Tampak belakang E = Tampak bawah

C = Tampak kiri F = Tampak atas



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer